wisamba.onthispla.net

wisamba.onthispla.net
my journey on this planet

backpacking hari#9

April 13th, 2008

[23 maret 2008] hari terakhir backpacking

.: tulisan kesembilan dari sembilan tulisan :.

Hari ini pagi pagi sekali aku seharusnya sudah sampai di KLCC untuk mengantri tiket gratis untuk naik ke SkyBridge Petronas Twin Towers. Tetapi karena bangun agak kesiangan, sekitar jam 9 aku baru sampai di KLCC. Dan benar saja, antrian sudah sangat panjang, tapi lagi-lagi aku beruntung karena masih mendapatkan tiket SkyBridge walaupun tiket untuk pukul 5 sore.

KL Monorail

Setelah mendapatkan tiket, aku dan teman-teman kembali menggunakan moda monorail ke KL Sentral. Rencananya di KL Sentral aku akan membeli paket perjalanan ke Genting Highland, salah satu taman rekreasi yang terletak di dataran tinggi Genting. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Genting memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Tetapi masalah datang ketika aku membeli paket Genting di KL Sentral, ternyata ada masalah penjadwalan sehingga aku hanya bisa membeli jadwal pulang pukul 2 siang, padahal aku baru sampai disana sekitar pukul 1 siang. Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk naik taksi ke Genting dan batal membeli paket yang ada. Sopir taksi ternyata cukup baik dan memberikan kami beberapa informasi tentang pariwisata di Malaysia. Dia juga mengajakku mampir di Galeri Cokelat dalam perjalanan menuju Genting. Aku membeli beberapa paket cokelat untuk oleh-oleh teman di Jakarta.

Genting Theme Park

Ketika mendekati Genting sudah mulai terlihat bahwa taman rekreasi ini berada pada dataran tinggi. Daerah pengunungan dengan hutan hujan tropis ini dibiarkan sebagaimana aslinya dan tidak sampai 20 persen area yang digunakan untuk membangun taman bermain. Sesampai di puncak yang dijadikan taman bermain dan Hotel, keramaian mulai terlihat. Sebenarnya dari segi permainan, Dunia Fantasi Ancol masih jauh lebih bagus, keunikannya mungkin hanya terletak pada lokasinya. Genting Highlands terletak di ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut sedangkan Dunia Fantasi terletak di tepi laut. Karena ketinggiannya, lokasi ini tertutup kabut ketika aku berada disana, suhunya pun menjadi sangat dingin.

Aku makan siang soup hangat di food center Genting. Setelah cukup berkeliling disana, aku berniat untuk kembali ke Kuala Lumpur pada pukul 3 sore. Serunya, untuk turun ke terminal bus yang akan mengantarku ke Kuala Lumpur, aku harus menggunakan Cable Car dari puncak melewati hutan hujan tropis dengan pepohonan lebat dan jurang-jurang yang ada. Cukup mengerikan juga bagi yang takut ketinggian tetapi pengalaman yang seru juga.

Genting Cable Car

Sesampainya di terminal aku membeli tiket bus ke Kuala Lumpur seharga 3 MYR dan tak lama kemudian aku sudah tertidur dalam bus yang melaju salama 2 jam menuju KL Sentral. Dari monorail KL Sentral aku kembali ke stasiun monorail Bukit Nanas untuk kembali menuju Petronas Twin Towers karena pukul 5 aku akan mendapatkan giliran untuk narik ke SkyBridge Twin Towers. Selama menunggu giliran aku masuk ke dalam ruang pameran yang menampilkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Menara kembar setinggi 452 meter ini. Dari masa pembuatannya, segala sistem yang terintegrasi dengannya, ilmu2 fisika dan engineering yang terkait dengannya dan informasi penting dan menarik lainnya.

Tepat pukul 5.15 sore, semua turis yang telah memiliki tiket untuk jadwal tersebut dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan mirip bioskop dan dipersilahkan menonton tayangan 3 dimensi yang berisi informasi tentang Petronas Twin Towers. Setelah 15 menit menonton tayangan tersebut semua dipersilahkan menaiki lift berkecepatan tinggi untuk menuju Skybridge yang merupakan jembatan penghubung tower 1 dan 2 yang berada di lantai 41. Aku diberi kesempatan selama 10 menit untuk berjalan di Skybridge dan berfoto. Aku juga bertemu dengan rombongan dari Bandung yang juga sedang naik ke Skybridge.

On SkyBridge Petronas Twin Towers

Pemandangan kota Kuala Lumpur yang memiliki banyak kesamaan dengan Jakarta tampak terlihat dari Skybridge ini. Saat itu tampak langit mendung dan beberapa saat kemudian hujan turun disertai petir. Suara petir cukup keras dari Skybridge ini, bahkan salah seorang wisatawan sedikit khawatir dan bertanya pada guide. Setelah 10 menit, semua wisatawan dipersilahkan turun kembali menggunakan lift, dan selesailah kunjungan ke Skybridge sekitar pukul 6 sore lebih.

Karena aku dan Asep harus mengejar pesawat pukul 9 malam, dan letak bandara yang jauh, aku dan Asep segera kembali ke hostel untuk check out. Sedangkan Indra masih bisa menikmati kota Kuala Lumpur hingga keesokan harinya karena dia menggunakan pesawat keesokan paginya untuk kembali ke Jakarta. Setelah berpamitan kepada pemilik hostel yang ramah, aku segera menuju KL Sentral untuk mencari airport bus.

Setibanya di bandara, ternyata hujan lebat dan petir semakin kencang, menyebabkan penerbanganku menuju Jakarta ditunda hingga pukul 12 tengah malam. Aku sempat makan malam di bandara dan keluar masuk beberapa tempat perbelanjaan di bandara untuk membeli oleh-oleh. Setelah counter check in dibuka dan lolos pemeriksaan imigrasi, aku segera menuju ruang tunggu yang ternyata telah penuh dengan orang-orang dari Jakarta yang usai menonton F1 hari ini. Hampir semua orang mengenakan pernak-pernik F1. Aku hanya bisa berniat dalam hati, suatu saat nanti aku harus kembali ke Malaysia untuk menonton seri F1 di sirkuit Sepang.

Pukul 2 pagi pesawat yang membawaku dari Kuala Lumpur landing dengan selamat di Soekarno Hatta International Airport Jakarta. Besok pagi pekerjaan kantor yang tertunda sudah menungguku. Dan yang jelas negara-negara lainnya juga sudah menunggu untuk kukunjungi dengan backpacking, mungkin melihat kuil-kuli di Kyoto Jepang, Taj Mahal di India, atau Angkor Wat di Kamboja. Saatnya kembali bekerja, menabung dan berdoa agar masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk melihat sisi-sisi lain dari dunia ini.

Foto-foto Kuala Lumpur selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#8

April 13th, 2008

[22 maret 2008] pisah thailand jumpa malaysia

.: tulisan kedelapan dari sembilan tulisan :.

Pagi hari itu tidak banyak yang aku dan teman-teman lakukan. Karena sehari sebelumnya sudah banyak mengeluarkan energi untuk tour Phi Phi dan menghabiskan malam di Patong, paginya bangun agak kesiangan dan setelah itu hanya bersantai sambil nonton TV di kamar plus beres-beres barang di backpack. Menurutku dalam perjalanan backpacking perlu juga diselingi santai tanpa melakukan apa saja, itung-itung recharge energi, agar tubuh kembali fit dan tidak sakit atau sampai tepar karena kelelahan.

Sekitar pukul 10 pagi, aku sudah bersiap-siap untuk check out. Saat berpamitan dengan bapak-bapak Korea pemilik hostel, dia sedang mengobrol dengan 3 orang mbak-mbak berwajah melayu. Ternyata ketiga mbak-mbak itu adalah wisatawan asal Medan, dan kamarnya pun tepat di depan kami, jadilah kita bersapa ria selama beberapa menit sebelum akhirnya aku dan teman-teman check out. Untuk menuju airport aku sudah memesan antar jemput dengan minibus seharga 170 THB. Di tengah perjalanan menuju Airport aku dan teman-teman dioper ke sebuah kendaraan sedan yang juga sedang mengantar seorang bule ke airport, mungkin karena isi minibus cuman kami bertiga.

Pukul 11 pagi aku sudah sampai di Phuket International Airport. Karena tadi belum sempat sarapan, aku membei sarapan bandara. Di imigrasi ternyata petugasnya sangat ramah. Setelah tahu aku orang Indonesia dia menyapaku dengan bahasa melayu. Ternyata dia seorang melayu dan muslim. Dia sempat berata padaku bagaimana membedakan nama orang Indonesia yang muslim dan yang non-muslim. Aku sedikit bingung juga menjawabnya, aku hanya menjelaskan kalau orang Indonesia banyak memakan nama dalam bahasa Indonesia. Hal yang menarik dari bandara phuket adalah kita bisa melihat pemandangan langsung ke arah pantai dari ruang tunggunya, dan kursi di ruang tunggu sangat empuk dan nyaman, lebih mirip kursi santai daripada kursi tunggu.

Phuket International Airport Thailand

Penerbangan selama hampir 2 jam ke Kuala Lumpur sedikit terganggu ketika pesawat mulai memasuki daerah Malaysia. Banyak awan dan hujan menyebabkan beberapa kali goncangan pesawat. Dan ketika pesawat telah mendarat di bandara LCCT KLIA Malaysia, hujan pun turun. Setelah beberapa hari di Thailand panas dan tanpa hujan, di Kuala Lumpur perjalananku diawali dengan hujan.

Karena bandara terletak di daerah Sepang yang cukup jauh dari Kuala Lumpur, aku harus menggunakan airport bus untuk menuju pusat kota dengan biaya sekitar 8 MYR. Satu jam perjalanan yang terlihat di kiri kanan jalan adalah hutan sawit. Airport bus akhirnya berhenti di KL Sentral, sebuah stasiun terpadu yang dilalui berbagai moda transportasi seperti LRT Bus dan monorail. Dari stasiun monorail aku naik monorail ke stasiun Imbi untuk menuju hostel. Stasiun monorail Imbi terletak didekat Berjaya Times Square, salah satu pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Setelah sempat tersesat di jalanan dalam keadaan hujan, akhirnya aku menemukan Equator Hostel tempatku menginap selama semalam nanti. Ternyata Equator hostel tepat terletak di seberang Berjaya Times Square, jadi dengan harga murah dan lokasi yang strategis, aku tidak salah memilih hostel ini. Pemiliknyapun informatif dan ramah, pada awalnya dia mengira aku ke kuala lumpur untuk menonton race. Ternyata aku baru sadar saat itu kalo yang dimaksud race adalah kejuaran Formula 1 yang akan diselenggarakan di hari minggu keesokan harinya di Sirkuit Sepang Malaysia. Karena kejuaraan itu, hostel cukup penuh, bukan hanya backpackers tapi juga keluarga yang ingin menonton F1. Untungnya aku sudah booking beberapa bulan yang lalu.

Petronas Twin Towers

Setelah menunggu hujan reda, sekitar pukul 7 malam aku mulai menjelajah kota Kuala Lumpur. Tentunya tujuan pertama kami adalah menikmati kemegahan menara kembar Petronas di malam hari. Untuk menuju menara yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia ini, aku naek monorail dari stasiun Imbi ke Bukit Nanas.

Malam itu banyak sekali wisatawan yang mengunjungi menara kembar ini. Disana, aku sempat bertemu Marthin, teman kuliahku di ITB, yang juga sedang pelesir ke Kuala Lumpur. Aku juga sempat masuk ke Suria KLCC, sebuah pusat perbelanjaan yang ada di bawah Twin Towers. Disana ternyata Petronas sedang memamerkan kendaraan F1 BMW Sauber Petronas yang akan digunakan di balapan keesokan harinya. Aku cukup beruntung hanya dengan berfoto dengan mobil2 jet tersebut tanpa melihat perlombaannya, karena tiketnya yang cukup mahal untuk kantongku.

F1 BMW Sauber Petronas

Rencana untuk ke KL Tower dibatalkan karena sudah terlalu malam, apalagi aku dan teman-teman sudah cukup lelah. Aku hanya cukup memandang KL Tower yang jelas terlihat dari area Petronas Twin Towers. Setelah makan malam di Berjaya Times Square, aku kembali ke hostel untuk beristirahat.

Foto-foto Kuala Lumpur selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#7

April 12th, 2008

[21 maret 2008] surga lain di dunia

.: tulisan ketujuh dari sembilan tulisan :.

Pagi ini aku harus segera bangun dan mandi, karena pukul 7 pagi van dari tour ke Phi Phi Island akan menjemputku. Sambil menunggu jemputan aku membeli sarapan di dekat hostel. Tepat waktu sebagaimana yang mereka janjikan, jemputan tiba di depan hostel. Ternyata aku, Asep, dan Indra merupakan orang pertama yang dijemput. Setelah kami, sopir menjemput wisatawan lain yang juga mengambil paket yang sama. Setelah penuh berisi aku, Asep, Indra, 2 cewek cantik asal Germany, 2 orang cowok bule Amerika, dan 2 orang asal India yang sepertinya kaya dan sedang berbulan madu, segera dibawa menuju pelabuhan tempat berlabuhnya speed boat yang akan membawa kami tour.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengira-ngira keindahan kepulauan Phi Phi yang sering aku lihat di foto-foto, blog, majalah wisata, atau pamflet wisata yang sudah kubaca. Selain itu juga dari film The Beach dengan tokoh utama Leonardo DiCaprio yang mengambil lokasi di Maya Bay, salah satu pulau terpencil di Phi Phi.

Speed Boat Tour to PhiPhi

Perjalanan dari pelabuhan di Phuket menuju Kepulauan Phi Phi memakan waktu lebih dari sejam. Tetapi dengan keindahan pemandangan yang ada dan pelayanan terbaik dari provider tour seharga 1800 THB, perjalanan terasa sangat menyenangkan. Satu speed boat berisi sekitar 30 orang, campuran dari berbagai macam warna negara, sebagian dari Eropa, Amerikan, Timur Tengah, Korea, India dan tentunya kami yang dari Indonesia.

Pemberhentian yang pertama adalah Maya Bay, lokasi pembuatan film The Beach. Speed boat merapat ke teluk tak berpenghuni di pulau Phi Phi Ley yang airnya berwarna hijau bening ini. Pemandangan pantai dengan airnya yang indah, ditambah karang karang yang seolah muncul dari dasar laut, pasirnya yang putih dan halus, serta ikan-ikan berwarna warni yang ada di pantai benar benar membuat pulau ini seperti surga lain di dunia. Sayangnya, semakin terkenalnya tempat ini membuat pantai yang awalnya sepi ini menjadi ramai sekali oleh wisatawan asing, tetapi untungnya kebersihan masih terjaga di teluk ini.

Maya Bay (The Beach) Thailand

Sekitar 30 menit aku diberi waktu untuk menikmati keindahan Maya Bay oleh tour operator Phuket Siam Seacanoe. Setelah itu semua peserta dipanggil kembali untuk melanjutkan tour ke lokasi kedua, Viking Cave dan Monkey Beach. Viking Cave ternyata adalah sebuah goa karang di tepi laut yang banyak digunakan untuk berburu sarang walet. Sedangkan di MOnkey Beach, speed boat akan merapat beberapa menit untuk memberikan kesempatan bagi peserta tour untuk memberi makan para kera yang bergelantungan di atas pohon bakau di tepi laut. Monyet-monyet itu dengan sigap menangkap pisang yang dilemparkan para wisatawan.

Di lokasi berikutnya, di suatu titik di laut lapas, speed boat berhenti selama 30 menit untuk memberikan kesempatan bagi para peserta untuk snorkeling. Pemandangan bawah laut di kepulauan ini benar benar sangat indah. Ikan-ikan berwarna-warni segera mendekatiku tanpa takut. Karena itu waktu yang diberikan serasa kurang, tetapi tor operator berkata bahwa nanti di pulau terakhir akan diberikan waktu sekitar 2 jam untuk snorkeling sampai puas.

Phi Phi Don Thailand

Tepat tengah hari ketika speed boat merapat di Phi Phi Don, salah satu pulau berpenghuni di kepulauan Phi Phi. Disini aku dan peserta lainnya dilayani makan siang disebuah Seafood Restaurant di tepi pantai Phi Phi Don. Dengan seafood yang merupakan kegemaranku ditambah suasana restaurant yang cozy membuatku merasakan salah satu makan siang yang ternikmat. Setelah makan aku dipersilahkan untuk berkeliling di sekitar pulau yang ternyata banyak dihuni warga muslim Thailand.

Pemberhentian terakhirku adalah sebuah pulau yang kudengar bernama Raya Island. Disini peserta tour dipersilahkan untuk snorkeling, berenang atau sekedar bersantai sambil berjemur hingga pukul 3 sore. Aku snorkeling di sekitar pulau ini hingga benar benar puas. Ikan disini berwarna warni dan sangat banyak, ketika diberi roti mereka akan berlompatan ke permukaan untuk makan, benar-benar menarik.

After Snorkeling

Pukul 3 sore tour operator memanggil semua peserta untuk kembali ke pelabuhan di Phuket. Sepanjang perjalan pulang di speed boat, dapat kulihat muka-muka gembira dari semua peserta tour. Ternyata keindahan yang kami nikmati dan pelayanan yang kami dapatkan selama tour jauh lebih berharga dari yang kami bayar.Sesampainya di pelabuhan di Phuket, van yang akan mengantar kami kembali ke hostel telah siap. Sepanjang perjalanan ke hostel sebagian besar penumpang tertidur karena kelelahan.

Malam hari itu aku makan di food center di dekat hostel, karena ini malam terakhir di Thailand, aku memesan masakan khas Thailand, Tom Yum Soup dengan porsi jumbo seharga 40 THB. Benar benar lezat didampingi dengan minuman es kelapa muda. Setelah makan, kembali aku menikmati keramaian malam Patong area. Tak lupa juga membeli beberapa kaos dan souvenir untuk teman-teman di Indonesia.

Foto-foto Phuket selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#6

April 12th, 2008

[20 maret 2008] kota keduaku di thailand

.: tulisan keenam dari sembilan tulisan :.

Sekitar pukul 4 pagi, aku terbangun karena mendengar namaku dipanggil, ternyata Indra minta diantar check out. Dia memang harus berangkat pagi-pagi benar untuk mengejar penerbangan pertama hari itu, penerbangan ke phuket. Phuket adalah salah satu kota di Thailand bagian selatan yang merupakan salah satu kota wisata di Thailand. Phuket merupakan kota yang menjadi pemberhentianku selanjutnya. Tetapi karena penerbanganku dan asep merupakan penerbangan siang, jadi aku masih bisa melanjutkan tidur nyenyak dulu sebelum harus beres-beres barang dan check out.

Karena kelelahan akibat semalam, aku dan Asep baru selesai berbenah pukul 9 pagi. Setelah itu aku turun ke lobby untuk sarapan, minum teh dan mengobrol dengan pengurus hostel. Pagi itu aku hanya bersantai di lobby sambil menikmati saat-saat terakhir di kota Bangkok. Dalam hati aku hanya berpikir bahwa suatu saat aku pasti akan kembali ke kota yang sudah membuatku tertarik dan betah ini.

Suvarnabhumi International Airport Thailand

Taksi yang membawaku ke bandara melaju kencang di jalan tol. Kurang dari satu jam aku sudah tiba di Suvarnabhumi Airport. Setelah 300 THB berpindah ke saku sopir aku segera masuk ke area bandara yang terbilang masih baru ini. Sekitar pukul 2 siang, aku sudah duduk dalam pesawat yang membawaku ke Phuket, kota kedua yang kukunjungi di Thailand.

Phuket International Phuket International Airport, walaupun tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih dan nyaman. Di antrian pemeriksaan imigrasi, sudah terlihat bahwa kota ini merupakan sebuah kawasan wisata yang maju, karena terlihat banyak sekali wisatawan asing yang mengantri. Saat akan keluar setelah mengambil ransel di baggage claim, sudah banyak berjejer travel agent yang menawarkan minibus ke phuket town ataupun ke patong. Aku segera mengeluarkan Bath sebesar 150 THB untuk sebuah karcis minibus menuju Patong Beach, tempat hostel yang telah kupesan berada. Ternyata jarak dari airport ke Patong Beach cuklup jauh juga. Di tengah perjalanan minibus berhenti ke sebuah travel agent untuk menawarkan tour ke beberapa tempat di sekitar Phuket. Tetapi karena Indra sudah reservasi 3 tempat untuk tour ke Phi-Phi Island besok, akupun tidak repot lagi memesan paket tour.

Sekitar pukul 4 sore minibus berhenti di depan hostelku, Som Guesthouse, milik keluarga asal korea yang tinggal di daerah Patong Beach Thailand. Di hostel ini aku memesan kamar private dengan 3 beds bersama Indra dan Asep. Kamarnya sangat bersih dan bagus, dielngkapi dengan TV Cable, AC dan Kulkas dan tentunya harga yang reasonable.

Setelah bertemu Indra yang sedang bersantai di kamar, aku segera memulai bersenang-senang di daerah Patong yang semakin malam semakin ramai. Di daerah ini banyak hal yang bisa ditawarkan kepada wisatawan, selain pantai-pantai yang indah banyak juga terdapat tempat berbelanja serta tentunya hiburan malam yang disukai wisatawan asing. Ketika malam tiba, beberapa jalanan ditutup untuk kendaraan dan dikhususkan untuk para pejalan kaki. Malam itu aku habiskan dengan berjalan di pantai dan tentunya di area perbelanjaan yang menawarkan berbagai macam souvenir khas Thailand.

Patong Beach Area, Phuket - Thailand

Foto-foto Phuket selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#5

March 31st, 2008

[19 maret 2008] bangkok oh bangkok

.: tulisan kelima dari sembilan tulisan :.

Pukul 9 pagi aku dan ketiga temanku sudah berkumpul untuk memulai lagi jelajah kota Bangkok. Sehari sebelumnya Daigo kun mengusulkan untuk pergi ke Kachanaburi hari ini, dia ingin mengunjungi Tiger Temple disana. Tetapi setelah bertanya kepada manager hostelku yang informatif itu, aku diberitahu bahwa untuk berkunjung ke Kanachaburi lebih baik mengalokasikan waktu 2 hari. Selain masalah jarak yang cukup jauh, transportasi menuju Tiger Temple yang berganti-ganti, selain itu Kachanaburi juga kota yang tidak begitu besar sehingga mungkin akan banyak kendala jika hanya mengalokasikan waktu 1 hari. Akhirnya kunjungan ke Tiger Temple, tempat para biarawan memelihara banyak harimau yang bebas berkeliaran, dibatalkan.

Kunjungan pertama di hari kelima backpacking ku adalah Jim Thompson Museum. Untuk menuju Museum itu, aku naik Skytrain dari BTS Sala Daeng meuju BTS National Stadium. Tempat itu tak jauh dari National Stadium. Jim Thompson adalah orang Amerika yang pernah menetap dan memiliki usaha Thai Silk di Bangkok sebelum akhirnya hilang ketika pergi di suatu hari. Rumahnya yang indah dengan model dan dekorasi khas Thailand saat ini dijadikan Museum. Disana disediakan guide-guide cantik yang bisa menjelaskan dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dsb. Aku, Indra, dan Asep memilih guide berbahasa Inggris sedangkan Daigo Kun dengan guide bahasa Jepang. Satu hal yang bisa kupelajari dari Jim Thompson Museum, ternyata hanya dari sebuah rumah yang dijadikan museum saja, asal dikemas dengan cara menarik dan informatif, berhasil mengundang banyak wisatawan untuk datang.

One Corner of Jim Thompson Museum

Cuaca Bangkok yang sedang panas tidak menghalangi aku untuk mengunjungi Vimanmek Mansion, salah satu istana yang pernah ditinggali raja-raja Thailand di masa lalu. Dari depan National Stadium, aku dan teman-teman memilih menggunakan taksi untuk menuju area Dust, tempat Vimanmek berada, karena tidak ada Skytrain atau Subway yang menuju area tersebut. Sayangnya, karena supir taksi yang tidak bisa berbahasa Inggris, akhirnya aku diturunkan di jalan yang salah, setelah beberapa menit berjalan dan dengan bantuan peta, aku sampai juga di Vimanmek Mansion. Mansion ini diklaim merupakan The Greatest Teakwood Mansion in the world. Sayangnya di dalam area mansion dilarang memotret atau mengabadikan dengan video, sehingga keindahannya hanya bisa aku simpan dalam memori otakku saja. Mansion ini sangat luas dan menyimpan banyak sekali benda-benda peninggalan keluarga kerajaan, karena itu untuk satu kali mengelilingi kompleks mansion, dilakukan beberapa kali pergantian guide untuk memandu wisatawan.

Tak jauh dari Vimanmek Mansion, masih di area Dusit, terdapat sebuah Wat yang dinilai sebagai wat tercantik di thailand. Orang Thailand menyebutnya Wat Benjamabophit tetapi wisatawan asing lebih suka menyebutnya dengan The Marble Temple. Disebut begitu karena temple ini terbuat dari marmer putih. Motif atap khas Thailand dengan nuansa merah dan keemasan membuat wat ini tampak anggun. Di dalam wat juga terdapat berbagai patung budha yang dikumpulkan dari seluruh Thailand dan beberapa negara lain.

The Marble Temple

Sekitar pukul 2 siang, aku bersama teman-teman menggunakan taksi untuk menuju Pasar Pratunam. Sebenarnya yang mengusulkan untuk mengunjungi tempat ini adalah Daigo Kun, dia ingin membeli beberapa barang disana, menurutnya barang-barang disana murah-murah. tapi setelah sampai disana, yang banyak memborong adalah Indra. Dia membeli beberapa kaos bola dengan kualitas KW1 yang dipesan teman-teman kantor. Ternyata memang kualitasnya bagus dan harganya jauh lebih murah dari di Indonesia. Pasar Pratunam ini tak jauh dari area Siam, tempat pusa-pusat perbelanjaan terkenal di Bangkok. Aku juga sempat makan siang di salah satu food court di Plattinum. Di food court ini, pengunjung harus membeli kartu prepaid untuk digunakan membeli makanan dan minuman di gerai-gerai yang ada. Jika sudah selesai, sisa uang yang terdapat dalam kartu dapat diambil kembali.

Hari sudah mulai gelap ketika kami menyusuri jalan-jalan di area perbelanjaan Siam. Dari Central World, Siam Paragon, Siam Square, dan masih banyak lagi mal di daerah itu. Malam hari itu banyak kuhabiskan di area tersebut. Sekitar pukul 8 malam, aku menuju MBK mall untuk makan malam. Disana ternyata banyak orang Indonesia yang berbelanja, dapat dikenali dari bahasa yang mereka gunakan. Di food center MBK aku juga bertemu kembali dengan bapak dan ibu dari departemen perhubungan yang sedang pelatihan di Bangkok, mereka sednag makan bersama teman-teman pelatihan mereka dari Fiji dan Malaysia. Makanan Thailand disini sangat enak dan menggugah selera, salah satu favoritku adalah Sticky Rice with Durian.

MBK

Ini merupakan malam terakhir eksplorasiku di kota Bangkok karena besok pagi aku sudah harus melanjutkan ke kota lain di Thailand, yaitu Phuket. Karena itu selama perjalanan dengan taksi dari MBK ke hostel, tak lupa aku, Indra, dan Asep berpamitan ke Daigo kun yang masih akan melanjutkan hari harinya di bangkok sampai tanggal 23.

Foto-foto Bangkok selengkapnya dapat dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#4

March 31st, 2008

[18 maret 2008] indahnya budaya thailand

.: tulisan keempat dari sembilan tulisan :.

Sebelum memulai eksplorasi kota Bangkok di hari kedua, Indra menelpon seorang backpacker asal Jepang yang dia kenal sehari sebelumnya ketika menunggu airport bus di Suvarnabhumi airport. Karena dia traveling sendiri dengan bahasa inggris khas japanesse a.k.a kacau, kami mengajaknya traveling bersama selama kami di Bangkok. Sehingga bertambahlah satu anggota baru selama backpacking di kota yang dibelah sungai Chao Phraya ini.

Chao Phraya River

Dari hostel menuju sungai, aku naik BTS atau Skytrain dari Stasiun BTS Sala Daeng dekat hostel, ke BTS Saphan Thaksin. Di dekat BTS Saphan Thaksin berdiri Sathorn Pier yang merupakan dermaga awal tempatku naik boat. Pukul 9 pagi aku telah berada di atas tourist boat yang berlayar diatas sungai Chao Phraya. Harga tiketnya 100 THB untuk seharian naik turun di berbagai Pier / dermaga.

Pemberhentian pertamaku adalah Maharaj Pier, di dekat pier inilah Grand Palace, istana kebanggaan Thailand, berada. Keindahan istana ini telah menjadikannya salah satu kompleks istana yang paling sering dikunjungi di dunia. Dan terbukti ketika aku kesana, ada ribuan orang mengantri untuk masuk ke dalamnya. Arsitektur khas thailand dengan corak yang serba keemasan dan kerlip cahaya dari pantulan kaca warna dan porselain membuat istana yang sangat luas ini merupakan tempat yang saya anggap paling memorable di Bangkok.

The Grand Palace

Walau panas terik, aku tetep bisa menikmati berkeliling kompleks Grand Palace, tentunya dengan ditemani botol-botol air mineral dan softdrink. Grand Palace selesai kujelajahi, aku dan teman-teman makan siang di sebuah restoran di daerah pasar, beberapa blok dari Grand Palace. Dengan bahasa tarzan a.k.a tunjuk-tunjuk menu karena ternyata pelayan disana tidak bisa berbahasa inggris, aku memesan seporsi noodle soup, tentunya setelah yakin kalau menu itu halal. Spot selanjutnya yang akan aku datangi adalah wat pho, sebuah temple tempat budha tidur raksasa, lokasinya tidak begitu jauh dari Grand Palace. Hanya berjarak satu pier setelah maharaj pier, yaitu Tien Pier. Patung budha itu ternyata memang sangat besar dan berlapis emas. Posisinya sedang berbaring, dengan telapak kakinya yang berhiskan potongan kerang laut. Sebuah karya seni yang mengagumkan.

Reclining Budha in Wat Pho Thailand

Dari Tien Pier, aku menyeberang menuju pier di dekat Wat Arun atau Temple of Dawn, sebuah temple yang terlihat sangat indah ketika fajar. Nuansa Wat Arun sedikit berbeda dari temple yang berada di kompleks Grand Palace. Wat Arun dihiasi porselain berwarna putih, dan memiliki beberapa tingkatan. Aku naik menuju tingkat 2 melalui tangga yang cukup curam. Dari atas, terlihat keindahan dan kesibukan sungai Chao Phraya yang memebelah kota Bangkok. Kompleks Grand Palace dan Wat Pho juga terlihat dari sini.

Dari Wat Arun, aku kembali menyebrang ke Tien Pier untuk menunggu boat yang menuju ke Phra Arthit Pier. Tidak banyak yang bisa dilihat di sekitar Phra Arthit, hanya sebuah taman dengan Phra Sumeru Fortress yang sedang direnovasi. Aku kemudian langsung menuju Ratchawongse Pier. Dari pier ini aku menuju Chinatown / Yaowaraj. Seperti layaknya chinatown di kota lain, chinatown di bangkok juga dipenuhi oleh pertokoan yang dimiliki oleh keturunan tionghoa, kebanyakan toko makanan dan emas.

Karena hari telah sore, aku segera mencari stasiun MRT terdekat, yaitu MRT Hua Lampong yang terletak di dekat staiun kereta api Hua Lampong. Dari MRT Hua Lampong, aku menuju MRT Lumphini. Seperti malam sebelumnya, aku makan malam dan membeli berbagai macam snack khas bangkok di food center Suan Lum Night Bazaar. Malam ini memang aku dan teman-teman khususkan untuk berbelanja oleh-oleh khas Thailand di bazaar. Di bazaar ternyata aku bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang sedang ikut seminar di Bangkok. Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika aku kembali ke hostel untuk beristirahat.

Foto-foto Bangkok selengkapnya dapat dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#3

March 27th, 2008

[17 maret 2008] dari keteraturan singapore ke eksotisme bangkok

.: tulisan ketiga dari sembilan tulisan :.

Hari ketiga perjalananku, di pagi harinya hanya kuhabiskan untuk sarapan di ruang makan dan dapur hostel bersama teman-teman dan penghuni hostel lainnya. Hampir jam 9 pagi ketika aku dan asep check out dari The Innn-Crowd. Aku langsung menuju Stasiun MRT Little India untuk menuju MRT Changi. Seperti di kota-kota lain di dunia dimana Airport biasanya diletakkan jauh di pinggir kota, Changi Airport juga terletak sedikit jauh dari pusat kota. Bedanya, walaupun jauh, tetapi hanya dengan MRT saja, aku sudah bisa langsung sampai di lantai bawah bandara. Seperti fasilitas publik lainnya, semua petunjuk arah dan lokasi terbaca dengan jelas di Changi. Penerbanganku kali ini berada di Terminal 2. Dari terminal 1 tersedia skytrain untuk menuju terminal 2. Ketika menunggu Skytrain, baru aku sadari bahwa aku sudah terlambat 15 menit untuk check in. Dan benar saja, check in counter telah tutup, beruntung petugas bandara yang kelihatannya orang melayu dengan ramahnya masih mau menerimaku untuk check in.

Changi Airport Singapore

Penerbanganku landing dengan mulus di Suvarnabhumi International Airport, Thailand. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, aku menuju bagage claim untuk mengambil backpack. Airport baru yang luas dan berdesain modern ini terletak sekitar 1 jam dari kota Bangkok, setelah menunggu airport bus cukup lama, akhirnya bus AE1 yang kutunggu datang dan membawa aku beserta para peenumpang lain yang kebanyakan turis eropa, menuju Silom.

Di sepanjang perjalanan dapat kulihat bahwa negara ini semakin beranjak maju dengan meningkatkan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jalan layang dan fasilitas publik lainnya. Walaupun belum seteratur Singapore, ada karakter yang kurasa membuat berbagai wisatawan dari penjuru dunia merasa tertarik terhadap kota yang satu ini, yaitu keeksotisannya.

Setelah berjuang melalui kemacetan dan kendala komunikasi dengan sopir bus yang kurang menguasai bahasa inggris, akhirnya berhasil juga aku menemukan lokasi hostel yang sudah kubooking, The Urban Age Bangkok. Pemilik hostel ternyata sangat ramah dan informatif, aku pun langsung merasa betah disana.

Hal pertama yang ingin kulakukan di Bangkok adalah mencari Canon Service Center untuk memperbaiki kamera yang kujatuhkan di Singapore. Beruntung area tempatku menginap adalah pusat bisnis dan perkantoran, sehingga hanya beberapa blok dari hostel, aku temukan pusat Canon Service Center. Setelah berdiskusi dengan Customer Service disana, kuputuskan untuk membawa pulang saja kamera tersebut untuk diperbaiki di Jakarta, karena ternyata aku harus mengeluarkan uang sebesar 4000 THB atau sekitar 1,2 juta rupiah untuk memperbaiki kamera itu disana.

Sampai pukul 7 malam kuhabiskan waktu dengan bersantai di hostel, sekaligus menunggu Indra yang naek penerbangan selanjutnya. Setelah Indra sampai di hostel, aku, Asep, dan Indra kemudian memulai petualangan di kota yang memiliki beberapa kemiripan dengan Jakarta ini. Tempat pertama yang kukunjungi adalah Suan Lum Night Bazaar. Tak jauh dari hostel terdapat stasiun MRT (Subway) Silom. dari stasiun Silom aku menggunakan MRT dan turun di stasiun MRT Lumphini. Suan Lum Night Bazaar terletak dekat dengan pintu keluar stasiun MRT Lumphini.

Suan Lum Night Bazaar

Semakin malam keadaan di bazaar semakin ramai. Bazaar yang cukup luas ini berisi stand-stand yang telah tertata sesuai dengan kategori baran yang dijualnya. Berbagai macam kategori barang dijual disini, misalnya kerajinan, pakaian, meubel, dan sebagainya. Yang paling menarik tentunya bagian makanan atau food center. Setelah makan malam di food center, dengan menu thailand yang lezat tentunya, aku berputar-putar untuk survey barang yang akan dibeli besok. Setelah lelah aku kembali ke hostel untuk beristirahat dengan menggunakan MRT.

Foto-foto Bangkok selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#2

March 26th, 2008

[16 maret 2008] kesialan di singapore

.: tulisan kedua dari sembilan tulisan :.

Hari kedua suasana dorm semakin ramai, hampir semua beds terisi. Aku mulai bersiap-siap pukul 7 pagi. Ternyata pada pukul 7 pagi langit di Singapore masih gelap. Setelah mandi dan sarapan di hostel, aku, asep, dan indra mulai menjelajah negara mungil yang benar benar rapi ini.

Tujuan pertama kami adalah The Singapore Flyer, sebuah kincir observasi raksasa yang bisa dinaiki untuk melihat-lihat pemandangan singapore dari ketinggian 165 meter, atau kira kira setinggi gedung 42 lantai. Tiket seharga 29.50 SGD telah kupesan via internet beberapa bulan sebelumnya. Singapore Flyer resmi berputar mulai 1 Maret 2008, jadi aku menaikinya 2 minggu setelah pembukaan resminya. Lokasinya ada di Marina Bay. Dengan tiket ditangan aku bisa menaiki Singapore Flyer satu kali putaran yitu kira-kira selama 30 menit. Aku berada dalam satu kapsul dengan Indra, Asep dan sepasang turis asal Australia. Kapsul kaca berputar sangat pelan sehingga nyaris tidak terasa ada perputaran. Ketika kapsul kaca berada pada ketinggian puncak, panorama semua sudut Singapore yang terlihat jelas.

The Singapore Flyer

Setelah puas mengabadikan keindahan Singapore dari kapsul Singapore Flyer, aku dan teman-teman melewati Esplanade untuk menuju Merlion Park sekedar melihat keadaan tempat itu di siang hari. Ternyata Merlion Park lebih ramai di siang hari walaupun menurutku pemandangan disana lebih indah di malam hari.

Singapore River View

Dari MRT City Hall, aku menuju MRT Orchad untuk berjalan-jalan di sepanjang Orchad Road yang terkenal seantero dunia itu. Aku menyusuri Orchad Boulevard, Somerset Road, dan Orchad Road yang semuanya memiliki trotoar yang rapi dan lebar. Walaupun hujan turun sebentar ketika aku sampai di istana park, namun sekitar 10 menit kemudian, hujan sudah reda kembali. Aku makan siang di salah satu gerai fast food di Plaza Singapura, tak jauh dari Istana Park.

Pukul 2 siang, aku menuju Harbourfront untuk memulai perjalanan ke Sentosa Island. Sebelum berangkat ke Sentosa terlebih dahulu aku berputar-putar di VivoCity, mall yang terhubung dengan Harbourfront. Tiket Sentosa bisa dibeli di VivoCity seharga 3 SGD, sudah termasuk tiket Sentosa Express P.P. Dengan Sentosa Express, semacam monorail, aku menuju Beach Station dengan melewati jembatan yang menghubungkan daratan Singapore dengan Sentosa. Sebelum sampai di Beach Station terlihat pembangunan Casino dan Hotel yang direncanakan selesai tahun 2010 di tepi pantai di Sentosa. Selama mengelilingi Sentosa dengan tram yang disediakan, aku bisa melihat bahwa Sentosa Island benar-benar direncanakan dan dikelola dengan serius.

Palawan Beach Sentosa Singapore

Walaupun keeksotisan dan keindahannya kalah jauh dengan pantai-pantai di tanah air seperti di Bali dan Lombok, tapi pantai Siloso, Palawan, dan Tanjong sepertinya cukup bisa membuat turis dan keluarga yang berkunjung ke Sentosa senang. Merasa cukup puas mengelilingi Sentosa, aku kembali ke Harbourfront via Sentosa Express.

MRT dari Stasiun Harbourfront membawaku dengan cepat ke Stasiun Outram Park. Setelah keluar dari stasiun, aku menyusuri jalanan menuju Chinatown. Bangunan tua di daerah Chinatown di Singapore benar-benar masih terjaga dan terawat. Di sepanjang Banda Street, Sago Street dan Trengganu Street, para pedagang keturunan China membuka toko-toko dengan aneka barang dagangan. Aku membeli beberapa cinderamata khas Singapore untuk rekan kantorku disini.

Chinatown Complex Singapore

Aku tinggalkan keramaian Chinatown setelah terlebih dahulu makan malam di sebuah restoran berlabel halal di Mosque Street. Dari MRT Chinatown aku menuju MRT Clarke Quay untuk menuju tempat hiburan di tepi sungai yang sangat terkenal di Singapore, Clarke Quay. Keramaian orang-orang yang sekedar menikmati keindahan sungai ataupun makan malam di tepi sungai sebagai saksi kesialanku di Singapore, kamera Canon yang kupakai tak sengaja kujatuhkan dan rusak. Jam 11 malam aku pulang ke hostel dengan hati tak karuan.

Foto-foto Singapore selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

backpacking hari#1

March 26th, 2008

[15 maret 2008] sehari di 3 kota

.: tulisan pertama dari sembilan tulisan :.
Walaupun dengan hati sedikit gondok karena semalam sebelumnya pihak AirAsia memberi kabar tentang penundaan penerbangan, tetapi aku dan 2 orang temanku, asep dan indra tetap bersemangat untuk memulai perjalanan backpacking pertama kami. Rute yang akan kami tempuh kali ini adalah Jakarta - Batam - Singapura - Bangkok - Phuket - Kuala Lumpur - Jakarta.

Persiapan untuk backpacking kali ini sudah dilakukan berbulan bulan sebelumnya, baik dari segi transportasi, lokasi, materi maupun akomodasi. Untuk rute backpacking ini, masing-masing orang membeli 5 tiket penerbangan dan sebuah tiket ferry. Tiket penerbangan semuanya dibeli via internet sedangkan tiket ferry batam singapore dibeli langsung di batam. Tiket pesawat sengaja dibeli jauh-jauh hari agar bisa didapatkan harga termurah. Total harga untuk kelima tiket hanya kurang dari 2.000.000,00 IDR, cukup murah bukan? Sedangkan untuk akomodasi aku memilih menginap di backpacker hostel agar biaya juga bisa lebih ditekan,toh sebagian besar hari akan kugunakan untuk berjalan-jalan, dan hostel hanya untuk tempat mandi dan tidur saja. Jadi tidak perlu lah tempat menginap yang bagus. Semua akomodasi juga kami booking via internet. Sebelum berangkat tak lupa juga kutukar lembaran rupiahku dengan beberapa lembar SGD, THB, dan MYR

Akhirnya hari pertama perjalanan dimulai. Sekitar pukul 07:00 aku dan teman-temanku berkumpul di Xtrans KC untuk menggunakan jasa airport shutle Xtrans. Cukup dengan 20.000,00 IDR aku sudah bisa sampai di Soekarno-Hatta International Airport. Sengaja berkumpul lebih pagi karena ada beberapa hal yang perlu dibahas bersama.

Sekitar pukul 08:00 aku sampai di bandara, mencari spot yang enak untuk diskusi dan menelpon keluarga untuk berpamitan. Setelah panjang lebar berdiskusi, sarapan, dan menelpon sana sini pukul 10:00 aku menuju counter check-in dan mengururus bagasi karena ternyata batasan berat barang yang bisa masuk kabin hanyalah 7 kilo, sedangkan backpack-ku lebih dari 10 kilo beratnya. Pukul 11:00 pesawat pun take off menuju Batam.

Flight to Batam

Di sepanjang penerbangan terlihat keindahan pulau Sumatra dan kepulauan Riau dari jendela pesawat. Kurang dari dua jam kemudian, aku sudah menginjakkan kaki di Hang Nadim International Airport di Batam. Karena harga ferry Batam ke Singapore dijual dengan harga lebih murah di bandara, maka setelah mengambil backpack di baggage claim, aku membeli tiket ferry Penguin seharga 18 SGD di counter yang ada di area bandara. Setelah itu aku dan kedua temanku menggunakan taksi resmi menuju pelabuhan batam center. Di sepanjang perjalanan ke pelabuhan terlihat pembangunan kota Batam yang sedang berkembang. Setengah jam kemudian, setelah membayar taksi sebesar 70,000.00 IDR, tibalah aku di Batam Center, salah satu pelabuhan di kota Batam yang melayani ferry menuju Singapore. Pelabuhan Batam Center terintegrasi dengan pusat perbelanjaan atau mall sehingga jauh dari kesan kotor seperti pelabuhan kota lain di Indonesia.

Setelah makan di salah satu gerai fast food di Batam Center, aku menuju counter Check-In ferry Penguin untuk penyeberangan pukul 15:10. Kemudian aku membayar seaport tax sebesar 7 SGD. Dan fiskal laut sebesar 500,000.00 IDR di counter fiskal. Setelah lancar melalui pemeriksaan passport di bagian imigrasi aku langsung menuju ferry yang sudah siap menyeberang. Ferry Penguin ternyata merupakan sebuah kapal cepat yang bagus. Dengan kapasitas kursi sekitar 100 pengumpang, dan dilengkapi TV dan AC membuat perjalanan selama sejam lebih menjadi tak terasa.

Menjelang mendarat di Harbourfront Singapore, ferry melewati pulau Sentosa, salah satu pulau yang dikembangkan untuk pariwisata di Singapore. Gedung-gedung pencakar langit juga mulai terlihat dari kejauhan. Setelah ferry benar benar merapat, barulah terlihat betapa infrastruktur negara ini sangatlah maju. Desain pelabuhan Harbourfront sangat modern, bersih dan lengkap. Pelabuhan ini terintegrasi dengan VivoCity yang merupakan pusat perbelanjaan dan bermain. MRT (Subway) menuju kota, monorail sentosa express dan cable car sentosa juga terhubung dengan pelabuhan ini. Setelah lancar melewati pemeriksaan imigrasi, aku menuju MRT atau Subway di bagian bawah Harbourfront.

Begitu memasuki stasiun MRT Harbourfront aku kembali kagum dengan betapa canggih dan terawatnya infrastruktur transportasi di salah satu negeri dengan luas terkecil di dunia ini. Aku membeli 2-days Singapore Tourist Pass seharga 26 SGD, sebuah kartu elektronik yang bisa digunakan untuk bebas naik turun MRT selama 2 hari. Cukup dengan menempelkan kartu tersebut di depan sensor, maka aku bisa masuk ke dalam area platform. Di layar LCD yang banyak terpasang di area platform tercantum berapa menit kereta selanjutnya akan datang. Dan aku pun akhirnya merasakan kemudahan transportasi dengan MRT. Sekitar 10 menit kemudian aku sudah berada di stasiun MRT Little India, stasiun terdekat dari penginapan yang akan aku inapi. Dengan meletakan kembali STP ke atas sensor, maka akupun keluar dari stasiun.

Sesuai dengan namanya, stasiun Little India terletak di daerah pemukiman India di Singapore. Tentu orang India yang merupakan keturunan India yang di bawa oleh penjajah Inggris di jaman kolonialisme dulu. Dari stasiun menuju hostel sekitar 200 meter, melewati beberapa pertokoan India dan tentu melewati jalanan Singapore yang lebar, rata, dan bersih baik dari kotoran, maupun dari preman. Walaupun jalanan lebar, tetapi kendaraan yang melintas tidak begitu padat sehingga arus lalu lintas nya lancar. Orang pun menyeberang pada tempatnya dan menunggu sampai lampu tanda boleh menyeberang menyala, padahal polisi di Singapore jarang terlihat. Jalanan ataupun persimpangan hanya dipantau oleh kamera CCTV saja.

Setelah menemukan lokasi The Inn-Crowd hostel yang telah dibooking, maka aku check in untuk 2 hari. Aku memilih kamar di dorm agar lebih murah. Dorm berisi sekitar 6 buah bunk beds, sehingga total 12 beds dalam 1 kamar. Aku dan 2 orang temanku sekamar dengan beberapa bule pria maupun wanita. Sarapan tersedia dan bisa disiapkan sendiri tiap pagi, internet bisa digunakan dengan membayar beberapa dollar, shower air hangat juga tersedia untuk mandi. Jadi menurutku harga yang ditawarkan cukup reasonable.

Infront of The Merlion Singapore

Setelah meletakkan backpack, maka dimulailah eksplorasi singapore untuk hari ini. Tujuan pertama adalah esplanade theatre. Dari MRT Little India aku menuju MRT City Hall, dan keluar tepat di area esplanade. Saat itu hari sudah mulai gelap dan gemerlap lampu-lampu kota singapore mulai dinyalakan. Esplanade tampak menyala kekuningan. Gedung theatre dengan bentuk durian ini saat itu sedang ramai dikunjungi para wisatawan. Setelah puas mengambil gambar, aku menyeberangi singapore river menuju the merlion. Dari jembatan terlihat berbagai sudut kota singapore yang bercahaya. tiap gedung pencakar langit disorot lampu sehingga tampak indah. Di singapore river juga banyak perahu boat untuk turis lalu lalang. Semakin dekat ke the Merlion suasana makin ramai. Tampak turis mengambil foto patung setengah singa setengah duyung yang menjadi icon kebanggan singapore tersebut. Setelah puas di area The merlion, aku melanjutkan ke gedung dengan gaya yang lebih klasik yaitu Supreme Court dan City Hall. Di sepanjang explorasi yang kulakukan, ternyata kelebihan singapore yang lainnya adalah trotoar nya yang lebar, rata dan bebas dari preman dan PKL, membuat pejalan kaki benar benar dimanjakan dan betah berjalan kaki. Selain itu udara juga bebas dari polusi membuat langit di singapore terlihat benar-benar biru, suatu pemandangan langit yang jarang dijumpai di ibukota jakarta.

Singapore Night Skyline

Setelah puas mengeksplorasi sudut-sudut lain singapore, pukul 11 malam aku kembali ke hostel untuk beristirahat dan recharge energi untuk eksporasi esok hari.

Foto-foto Singapore selengkapnya bisa dilihat di album picasa ku.

aceh 3 tahun setelah tsunami

March 10th, 2008

Jadi juga tugas ke Banda Aceh. Garuda Indonesia yang kunaiki take off dari Soekarno-Hatta tanggal 25 Februari jam 9 pagi. Penerbangan Jakarta-Aceh ternyata cukup memakan waktu. Agak kurang menyenangkan buatku berada di atas pesawat cukup lama karena sebenarnya aku kurang suka terbang. Dari Jakarta, pesawat terlebih dahulu terbang 2 jam menuju Medan. Transit di medan sekitar 1 jam dan kemudian melanjutkan penerbangan dari medan selama 1 jam menuju Banda Aceh. Penerbangan diatas pulau Sumatra jelas berbeda dengan penerbangan yang biasa kulakukan ketika pulang kampung ke Jawa Timur. Diatas pulau Sumatra bisa kulihat sungai-sungai besar yang meliuk-liuk menuju lautan. Dan barisan pegunungan yang hijau. Tetapi dibeberapa tempat juga bisa kulihat kerusakan alam akibat penggundulan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Pesawat akhirnya mendarat di Banda Aceh sekitar pukul 1 siang. Bandaranya cukup kecil jika dibandingkan dengan bandara-bandara yang pernah saya datangi. Di pintu kedatangan aku dijemput oleh Mas Ardan dan Mas Ian, rekan kerja dari cabang Banda Aceh.

Sebagian besar hari-hariku di banda Aceh kuhabiskan untuk urusan pekerjaan. Malam hari kebanyakan kuhabiskan untuk transfer knowledge ke EDP cabang. Selama seminggu aku bisa melihat bahwa kota Banda Aceh adalah sebuah kota yang sangat berkarakter. Karakter islami cukup terasa disini, walaupun menurut rekan di cabang, karakter tersebut sudah mulai luntur karena banyaknya arus orang yang masuk ke Banda Aceh pasca tsunami. Semua wanita yang kutemui pasti mengenakan jilbab dan menutup aurat karena hukum yang digunakan di Aceh adalah syariat islam. Bahkan jika di Jakarta baliho iklan salah satu provider telekomunikasi menampilkan seorang gadis cantik berpakaian seksi dan minim, di banda Aceh si gadis cantik tersebut berubah tampilan berbalut busana muslimah dan jilbab.

Karena kantor cabang terletak hanya beberapa puluh meter dari Masjid Baiturahman banda Aceh, aku jadi sering melakukan sholat disana, termasuk sholat Jumat. Arsitektur masjid ini benar-benar indah. sayang aku selalu lupa membawa kamera setiap kali ke masjid ini. Suatu saat aku ingin sekali kembali ke Aceh, selain untuk mengabadikan gambar masjid baiturahman, juga tentu saja untuk menikmati keindahan pulau Weh dan Sabang yang belum sempat kukunjungi.

Salah satu hal yang kusukai juga dari kota ini adalah makanannya yang lezat. Ayam tangkap, Mie Aceh dengan Kepitingnya yang gurih, Nasi Goreng Aeh dengan udangnya yang segar, dan tak lupa gulai kambingnya yang kental benar-benar memanjakan lidahku.

Seharusnya aku sudah kembali ke Jakarta pada tanggal 29 februari, tetapi pihak cabang memintaku untuk memperpanjang satu hari lagi untuk berjalan-jalan keliling banda Aceh. Tentunya kesempatan ini langsung kuterima dengan senang hati. Hari sabtu pagi 1 Maret, aku diajak melihat sisa-sisa Tsunami Aceh 3 tahun lalu, seperti Kapal terapung pembangkit Listrik yang terdampar sejauh 3 kilometer dari pantai. Terbayang seberapa besar ombak yang menyeret kapal besar itu jauh ke darat. Puing-puing sisa tsunami juga sudah mulai menghilang digantikan dengan bangunan-bangunan permanen baru yang mulai banyak bermunculan. Aku juga diajak ke pantai LhokNga yang tak kuduga ternyata benar-benar indah. Airnya jernih dan pasirnya putih.

Pantai Lhoknga Aceh

Setelah berkeliling, aku diantar menuju bandara untuk penerbangan siang hari. Kembali kuhabiskan waktu sekitar 4 jam untuk perjalanan menuju Jakarta.

Foto-foto Aceh yang lainnya bisa dilihat disini.

Minggu depan backpacking ke Singapura, Thailand, and Malaysia. Moga lancar-lancar aja.

« Previous Entries